IndoProtest IndoProtest

Yogyakarta (5/5/98)

Massa Rakyat Bentrok dengan Aparat ABRI

Darah dan air mata mahasiswa dan rakyat berceceran lagi di Yogyakarta. Dan kali ini, rakyat mulai kehabisan akal terhadap aparat ABRI menyusul tindak kekerasan yang digunakan untuk membubarkan massa. Sekitar 5000 massa mahasiswa dan rakyat melancarkan aksi keprihatina secara damai selama sehari penuh, sejak 09.00 wib hingga tengah malam, 5/5/98. Massa mahasiswa dan penduduk kampung memanfaatkan jalan Gejayan yang terletak di antara IKIP Negeri Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta melancarkan aksi protes terhadap pemerintahan Soeharto. Tapi aksi damai namun penuh hiruk pikuk ini kemudian diserbu ratusan polisi dan tentara ditambah dengan dua panser. Gas air mata dan peluru karet ditembakan ke arah massa. Selain itu polisi juga mementung massa dengan membabibuta.

Akibatnya serbuan ini sebagian massa lari kocar kacir, tapi sebagian yang lain masih bertahan hingga sekitar pukul 22.00 WIB (hingga berita ditulis). Selain itu, akibat serbuan ini, menurut data sementara yang dikumpulkan pos pengaduan Senat Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, 2 orang luka parah dan kini dirawat di rumah Sakit Panti rapih, tujuh orang ditangkap dalam keadaan babak belur, sebagian akibat keroyokan aparat. Sementara itu, sekitar 50 orang hingga kini belum diketahui nasibnya. "Aparat bertindak sangat brutal. Kios-kios para pedagang di sekitar kampus dirusak. Para pengunjung warung-warung makan digebuk. Bahkan seorang ibu yang makan pun tak luput dipentung aparat yang kesetanan menyerang siapa saja yang berada di sekitar lokasi aksi," ujar seorang saksi mata.

Hingga pukul 22.00 Wib, letusan senjata api masih terdengar. Sejumlah orang masih berlarian menyelamatkan diri, dan sebagian yang lain masih tertahan dalam kepungan polisi dan tentara. Massa yang terkepung ini diisolir secara ketat, dengan menutup jalan-jalan yang menuju lokasi. Pukul 00.15 WIb, sebuah kendaraan panser kembali menyerbu massa dengan menembakkan gas air mata. Massa mencoba membakar panser tersebut, tapi gagal. Api hanya terlihat menyala sebentar, kemudian padam kembali.

Tapi akibat tindakan aparat yang brutal ini, bukannya malah membuat rakyat takut. Warga Yogya kini justru makin nekad. Hampir seluruh kampung di Yogya, kini siap-siap untuk menggelar aksi perlawan yang sama. Di Kauman, basis masyarakat Muhammadiyah Yogyakarta, kini juga siap-sap untuk melawan polisi dan militer. "Mereka kini tak lagi berhadap dengan mahasiswa. Tapi mereka berhadapan dengan rakyat kini. Kami siap untuk bergerak sekarang," ujar seorang warga Kauman yang terkenal sebagai kampung muslim tersebut.

Menurut Maxi (24) koordinator lapangan aksi, aksi yang dimulai pukul 09.00 WIB ini, awalnya dikoordinir oleh Senat Mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Aksi kemudian turun ke jalan, tapi dihadang oleh aparat di jalan Gejayan. Massa rakyat dan banyak aktivis mahasiswa dari = berbagai kampus seperti ISI, IKIP Negeri, Universitas Atma Jaya, IAIN, UGM dan lain-lain kemudian bergabung membentuk massa yang cukup besar.

Diperkirakan berjumlah sekitar lima ribu orang. Massa mencoba untuk long march ke DPRD Yogyakarta, tapi aparat terus menekan massa. Akibatnya, massa terus bertahan hingga pukul 18.00. Kemudian koordinator aksi, Maxi, membubarkan aksi tersebut. Tapi kemudian, tutur Maxi lagi, yang juga mahasiswa Universitas Sanata Dharma ini, aparat bukannya ikut bubar, tapi justru memprovokasi massa dengan merusak kios-kios dan sejumlah kendaraan bermotor penduduk sekitar Jalan Gejayan. Tak puas hanya merusak, aparat kemudian menyerbu massa dengan 2 panser dan menembakkan gas air mata, tembakan peluru karet, hantaman pentungan dan sebagainya. "Aparatlah yang bengis dan anarkis. Mereka lah yang mengundang kerusuhan, bukan rakyat," ujar Agus, seorang demonstran.

Akibat provokasi aparat inilah, penduduk sekitar jalan Gejayan kemudian marah dan mengamuk menantang aparat. Tapi aparat yang terus menerus bertambah ini, lalu kembali menyerbu massa rakyat tersebut pada pukul 21.00 Wib. "Kini yang masih bertahan melawan aparat tersebut umumya adalah penduduk sekitar Jalan Gejayan yang dirusak toko-toko dan = kendaraan mereka oleh aparat. Mahasiswa yang bertahan di sana tinggal sedikit," ujar Maxi.

Mahasiswa pun kemudian menahan seorang anggota DPRD I Yogya, Kol Sriyono Hardjoprawiro yang mendatangi acara unjuk keprihatian tersebut. "Kami menahan anggota DPRD ini hingga teman-teman mahasiswa dan rakyat yang ditahan dilepas kembali. Selain itu, aparat ABRI harus meminta maaf untuk tindakan bar-bar mereka yang memprovokasi rakyat," ujar Maxi.

Catatan: Ketika berita ini ditulis letusan tembakan masih terus terdengar. Dan keamanan makin diperketat. Selain itu, sejumlah anggota Kopasus dari Kartasura juga diturunkan ke Yogya. Massa rakyat sendiri hingga sekitar pukul 01.00 Wib, 6/5/97) terus membakar ban-ban bekas sepanjang jalan Gejayan.

Tolong sebarkan sebarkan berita ini ke mana pun. Mestinya berita ini sudah dikirim sejak 5/5/98 sekitar pukul 22.00 wib. Tapi anehnya, bersamaan dengan aksi protes dan bentrokan rakyat dengan aparat tersebut, hampir seluruh internet-mail di Yogyakarta tidak berfungsi. Terima kasih.

Home

IndoProtest - http://members.tripod.com/~indoprotest